Archive for December, 2007

03
Dec
07

ANTARA MALAM DAN FAJAR PAGI

This is one of my favorite poem:

Diamlah, hatiku, sebab ruang angkasa

Tiada mendengarmu, karena suasana

Sarat jeritan dan keluhan berat,

Tiada suara kidungmu masih termuat.

 

Diam, sebab baying-bayang malam

Tiada sudi mengindahkan bisikan

Rahasiamu; tiada iring-iringan kegelapan

Sudi berhenti di hadapan mimpi-mimpi.

 

Dialah, sukma, tunggu hingga Fajar tiba.

Dia sabar menanti kedatangan pagi

Bakal menjumpainya dengan pasti

Dan dia yang mencintai sinar surya, bakal dicintainya.

 

Diamlah, hati, dan dengarkan kisahku ini:

Dalam mimpiku terlihat seekor burung bulbul

Menyenandungkan kidung di tepi kawah mengepul

Sebuah gunung berapi,

Dan kulihat sekuntum bunga lili mengangkat kepala

Di atas timbunan salju,

Lalu seorang wanita, tanpa busana

Menari-nari di tengah pekuburan,

Sedangkan seorang bayi tertawa riang gembira,

Bermain-main dengan tengkorak manusia.

 

Semua bayangan ini ‘lah kulihat dalam mimpi

Dan ketika kubuka mata, memandang sekitar diri

Gunung berapi itu masih juga tampak menggelegak,

Namun bulbul tiada lagi terdengar menyanyi;

Tiada pula kulihat terbang kian kemari.

 

Kulihat langit menurunkan salju melurupi

Ladang-ladang terhampar dan lembah ngarai.

Menyembunyikan di bawah selimut kafannya,

Batang-batang lili dan beku terlena.

Kulihat sederetan makam di depan Abad-abad bungkam

Tapi tiada insan menari atau memuja di tengahnya

Kulihat tengkorak setumpuk tapi tiada seorang pun

Yang tertawa, kecuali angin pawana.

 

Dalam jaga, kusaksikan penderitaan dan kesedihan.

Apa yang terjadi dengan sukacita dan kemanisan mimpi-mimpi?

Ke mana perginya keindahan impian,

Secara bagaimana bayangan mereka hilang musnah?

 

Bagaimana mungkin jiwa bersabar, sebelum Lena

Ketiduran memulihkan bayangan bahagia

Harapan dan gairah Kehidupan?

 

Mohon perhatianmu, hatiku, dan dengarkan tuturku;

Kemarin jiwaku laksana pohon tua perkasa

Berakar dalam menghunjam ke jantung bumi.

 

Berdahan dan ranting yang menggapai Keabadian.

Di musim semi berkembang dia berseri-seri

Di musim Panas berbuah melimpah-ruah.

Ketika musim Gugur tiba, kususun buah-buah

Pada nampan ukiran dari perak murni

Dan kuletakkan di pinggir jalan bagi pejalan

Mereka suka mengambilnya, untuk kemudian berjalan lagi.

 

Ketika musim Gugur berlalu, dan menimbuni

Sukacitanya di bawah ratapan dan keluhan,

Kupandang nampanku dan hanya kudapati

Sisa sebutir buah

Yang kupungut, kemudian kumakan

Namun terasa sepahit empedu

Dan masam bagai anggur mengkal hijau

Maka aku berkata dalam hati, “Celakalah aku,”

Yang telah mengundang umpatan seru

Dari bibir sesamaku, dan menyebabkan penyakit belaka.

Apa yang telah kaulakukan, jiwaku?

Apa yang telah kauperbuat dengan sari manis

Yang kauhisap dari bumi,

Dengan haruman wangi

Yang ‘lah kautarik dari langit tinggi?

Dalam kegusaran telah kurenggut pohon perkasa tua

Sampai akar-akarnya melawan

Dari kedalaman bumi.

 

Kucabut pohon itu dari masa lalu

Dan bersamanya terenggut pula seribu kenangan

Musim Semi, seribu bayangan Musim Gugur

Lalu kutanam pohon jiwaku di tempat lain yang subur.

Sekarang dia tegak di atas ladang, jauh dari detak-detak perjalanan Waktu.

Siang malam dia kupupuk dan kusirami,

Sambil berkata dalam hati,

Kewaspadaan bakal lebih mendekatkan kita pada gemintang angkasa,

Kuperciki dia dengan darah dan air mata

Sambil berkata: Ada citarasa sedap-wangi pada darah ini,

Dan kemanisan dalam air mata.”

Ketika musim Gugur tiba, kukumpulkan semua

Buah ranum di atas nampan kencana

Yang kusajikan di jalanan umum, dan orang-orang melewatinya

Tanpa ada yang sudi menyentuhnya.

 

Kupungut sebuah lalu kucicipi

Ternyata amat manis bagai madusari

Dan menggelorakan semangat bagaikan anggur Babilonia

Harum wangi laksana bunga yasminia.

 

Aku pun berseru: “Orang-orang tak menghendaki

Rahmat menyentuh bibirnya atau kebenaran menyinggahi hati

Sebab Rahmat itu putri Air Mata

Dan Kebenaran adalah putra Darah.”

 

Kutinggalkan kebisingan kota mencari tempat teduh

Di bawah pohon tunggal jiwaku

Dalam sebuah padang yang jauh

Dari jalan kehidupan.

 

Diamlah, hatiku, sampai Fajar tiba;

Diamlah, dan dengarkan ceritaku ini

Kemarin pikiranku seperti kapal yang berlayar.

Mengarungi ombak samudera, melaju bersama angin

Dari negara yang satu ke negara yang lain.

 

Kapalku hampa, kecuali tujuh buah piala

Berisi warna-warna pelangi, dan saat pun tiba

Ketika aku jemu melayari wajah samudera

Lalu kukatakan pada diriku sendiri:

“Aku akan kembali dengan kapal pikiran

Ke pelabuhan pulau kelahiran.”

 

Dan kulakukan persiapan dengan mengecat perahuku

Berwarna kuning seperti matahari tenggelam,

Dan hijau menyerupai jantung musim Semi,

Biru laksana langit, dan merah bunga anemon,

Lalu tiang dan buritan kapal kugambari

Bentuk-bentuk ganjil yang menarik perhatian

Dan menyilaukan pemandangan.

Setelah kuakhiri tugasku, kapal pikiranku

Tampak bagaikan bayangan nujum

Yang berlayar antara kedua unsur keabadian

Yaitu langit dan lautan

 

Kumasuki pelabuhan pulau kelahiranku

Penduduknya berdesak-desakan menyambutku

Sambil bernyanyi dan bersukaria

Dan kerumunan itu mengajakku memasuki kota.

 

Mereka pun memetik dawai-dawai alat musiknya

Serta menabuh gendangnya.

 

Demikian sambutan yang kuterima, sebab kapalku

Terhias indah, dan tak seorang pun masuk

Hendak melihat bagian dalam kapal pikiranku.

Tiada pula menanyakan apa buah tangan

Yang kubawa dari seberang lautan.

 

Tiada pula mereka dapat mengamati

Bahwa kapalku telah kubawa dalam keadaan hampa

Sebab kegemilangannya telah membuat mereka alpa.

 

Kemudian kukatakan kepada diri:

“Telah kubawa sesat orang-orang ini,

Dan dengan tujuh piala zat pewarna

Telak kukelabui pandangan mereka.”

 

Sesudah itu kunaiki kapal layar pikiranku

Untuk berlayar lagi, dan kusinggahi Kepulauan Timur

Kukumpulkan di sana, setanggi, dupa dan cendana

Lalu kumasukkan dalam perahuku. . .

 

Kujelajahi Kepulauan Barat, dan membawa serta

Gading dan batu mirah, zamrud dan intan, permata langka. . .

 

Aku kunjungi Kepulauan Selatan, dan mengangkut barang.

Busana perang serba gemilang, tombak pedang gemerlapan,

Senjata ampuh aneka ragam. . .

 

Dan kapal pikiran pun kupenuhi dengan

Benda-benda paling berharga yang serba pilihan

Kembali aku ke pelabuhan tampat kelahiran

Sambil bergumam: “Orang-orang akan menyanjungku lagi

Tetapi kini dengan tulus hati, dan kembali

Mereka akan mengundangku memasuki kotanya,

Tetapi kini dengan maksud mulia.”

 

Ketika aku sampai di pelabuhan, tiada seorang

Yang menyongsongku. . . Aku menapaki jalan-jalan

Masa laluku yang megah, namun tak seorang

Menengok kepadaku. . . “Ku berdiri di tengah pasar,

Dan mereka malah mengolok-olok daku,

Bersikap tak acuh pada diriku.

 

Aku kembali ke pelabuhan berhati kosong, patah semangat

Penuh kekecewaan dan kebingungan.

 

Dan ketika kupandang perahuku, terlihat olehku

Sesuatu yang belum pernah kulihat selama perjalanan

Aku pun berteriak, “Ombak lautan telah menghapuskan

Segala warna perahu dan gambar-gambarnya!

Membuatnya kini kelihatan bagai kerangka.”

 

Angin dan semburan, bersama terik sinar surya

‘Lah memudarkan cerlang warna, dan kapalku kini hanya

Tinggal laksana seonggok jubah usang kelabu,

Dari tengah timbunan harta bendaku,

Perubahan ini terluput dari pengamatan,

Sebab dari dalam mataku telah dibutakan.

 

Telah kukumpulkan harta kekayaan paling mahal

Di dunia, dan menyimpannya dalam wadah kapal

Samudera, dibawa mengambang di atas airnya.

Dan aku kembali mengusirku, tak dapat melihatku;

Penglihatan mereka telah tergoda

Oleh pikatan gemerlapnya harta hampa.

Pada saat itu kutinggalkan kapal gagasanku

Untuk menuju Kota Kematian, dan aku duduk termangu

Di tengah tanah pekuburan bisu,

Merenungkan rahasia yang dikandungnya.

 

Diamlah, hatiku, sabar, sampai Fajar mekar;

Diam, sebab badai yang mengamuk menenggelamkan bisikan hati,

Dan gua-gua di lembah ngarai tak kuasa memantulkan

Getaran tali kecapi yang kaubunyikan.

Diamlah, hatiku, tunggu sampai Pagi baru,

Sebab dia yang sabar menunggu terbit Fajar,

Bakal disambut ombak Pagi dengan rindu.

 

Berjalanlah bersama Fajar pagi

Sebab malam telah lewat, dan ketakutan akan kelam

Telah hilang, bersama mimpi-mimpinya yang hitam

Pikiran-pikiran yang mengerikan,

Dan perjalanan tanpa tujuan.

 

Bangkitlah, hatiku, dan lantangkan suaramu dengan lagu

Sebab manusia yang tiada menyertakan Fajar dalam nyanyiannya

Adalah seorang putra Kegelapan

Selamanya.

 

Kahlil Gibran