This is one of my favorite poem:
Diamlah, hatiku, sebab ruang angkasa
Tiada mendengarmu, karena suasana
Sarat jeritan dan keluhan berat,
Tiada suara kidungmu masih termuat.
Diam, sebab baying-bayang malam
Tiada sudi mengindahkan bisikan
Rahasiamu; tiada iring-iringan kegelapan
Sudi berhenti di hadapan mimpi-mimpi.
Dialah, sukma, tunggu hingga Fajar tiba.
Dia sabar menanti kedatangan pagi
Bakal menjumpainya dengan pasti
Dan dia yang mencintai sinar surya, bakal dicintainya.
Diamlah, hati, dan dengarkan kisahku ini:
Dalam mimpiku terlihat seekor burung bulbul
Menyenandungkan kidung di tepi kawah mengepul
Sebuah gunung berapi,
Dan kulihat sekuntum bunga lili mengangkat kepala
Di atas timbunan salju,
Lalu seorang wanita, tanpa busana
Menari-nari di tengah pekuburan,
Sedangkan seorang bayi tertawa riang gembira,
Bermain-main dengan tengkorak manusia.
Semua bayangan ini ‘lah kulihat dalam mimpi
Dan ketika kubuka mata, memandang sekitar diri
Gunung berapi itu masih juga tampak menggelegak,
Namun bulbul tiada lagi terdengar menyanyi;
Tiada pula kulihat terbang kian kemari.
Kulihat langit menurunkan salju melurupi
Ladang-ladang terhampar dan lembah ngarai.
Menyembunyikan di bawah selimut kafannya,
Batang-batang lili dan beku terlena.
Kulihat sederetan makam di depan Abad-abad bungkam
Tapi tiada insan menari atau memuja di tengahnya
Kulihat tengkorak setumpuk tapi tiada seorang pun
Yang tertawa, kecuali angin pawana.
Dalam jaga, kusaksikan penderitaan dan kesedihan.
Apa yang terjadi dengan sukacita dan kemanisan mimpi-mimpi?
Ke mana perginya keindahan impian,
Secara bagaimana bayangan mereka hilang musnah?
Bagaimana mungkin jiwa bersabar, sebelum Lena
Ketiduran memulihkan bayangan bahagia
Harapan dan gairah Kehidupan?
Mohon perhatianmu, hatiku, dan dengarkan tuturku;
Kemarin jiwaku laksana pohon tua perkasa
Berakar dalam menghunjam ke jantung bumi.
Berdahan dan ranting yang menggapai Keabadian.
Di musim semi berkembang dia berseri-seri
Di musim Panas berbuah melimpah-ruah.
Ketika musim Gugur tiba, kususun buah-buah
Pada nampan ukiran dari perak murni
Dan kuletakkan di pinggir jalan bagi pejalan
Mereka suka mengambilnya, untuk kemudian berjalan lagi.
Ketika musim Gugur berlalu, dan menimbuni
Sukacitanya di bawah ratapan dan keluhan,
Kupandang nampanku dan hanya kudapati
Sisa sebutir buah
Yang kupungut, kemudian kumakan
Namun terasa sepahit empedu
Dan masam bagai anggur mengkal hijau
Maka aku berkata dalam hati, “Celakalah aku,”
Yang telah mengundang umpatan seru
Dari bibir sesamaku, dan menyebabkan penyakit belaka.
Apa yang telah kaulakukan, jiwaku?
Apa yang telah kauperbuat dengan sari manis
Yang kauhisap dari bumi,
Dengan haruman wangi
Yang ‘lah kautarik dari langit tinggi?
Dalam kegusaran telah kurenggut pohon perkasa tua
Sampai akar-akarnya melawan
Dari kedalaman bumi.
Kucabut pohon itu dari masa lalu
Dan bersamanya terenggut pula seribu kenangan
Musim Semi, seribu bayangan Musim Gugur
Lalu kutanam pohon jiwaku di tempat lain yang subur.
Sekarang dia tegak di atas ladang, jauh dari detak-detak perjalanan Waktu.
Siang malam dia kupupuk dan kusirami,
Sambil berkata dalam hati,
Kewaspadaan bakal lebih mendekatkan kita pada gemintang angkasa,
Kuperciki dia dengan darah dan air mata
Sambil berkata: Ada citarasa sedap-wangi pada darah ini,
Dan kemanisan dalam air mata.”
Ketika musim Gugur tiba, kukumpulkan semua
Buah ranum di atas nampan kencana
Yang kusajikan di jalanan umum, dan orang-orang melewatinya
Tanpa ada yang sudi menyentuhnya.
Kupungut sebuah lalu kucicipi
Ternyata amat manis bagai madusari
Dan menggelorakan semangat bagaikan anggur Babilonia
Harum wangi laksana bunga yasminia.
Aku pun berseru: “Orang-orang tak menghendaki
Rahmat menyentuh bibirnya atau kebenaran menyinggahi hati
Sebab Rahmat itu putri Air Mata
Dan Kebenaran adalah putra Darah.”
Kutinggalkan kebisingan kota mencari tempat teduh
Di bawah pohon tunggal jiwaku
Dalam sebuah padang yang jauh
Dari jalan kehidupan.
Diamlah, hatiku, sampai Fajar tiba;
Diamlah, dan dengarkan ceritaku ini
Kemarin pikiranku seperti kapal yang berlayar.
Mengarungi ombak samudera, melaju bersama angin
Dari negara yang satu ke negara yang lain.
Kapalku hampa, kecuali tujuh buah piala
Berisi warna-warna pelangi, dan saat pun tiba
Ketika aku jemu melayari wajah samudera
Lalu kukatakan pada diriku sendiri:
“Aku akan kembali dengan kapal pikiran
Ke pelabuhan pulau kelahiran.”
Dan kulakukan persiapan dengan mengecat perahuku
Berwarna kuning seperti matahari tenggelam,
Dan hijau menyerupai jantung musim Semi,
Biru laksana langit, dan merah bunga anemon,
Lalu tiang dan buritan kapal kugambari
Bentuk-bentuk ganjil yang menarik perhatian
Dan menyilaukan pemandangan.
Setelah kuakhiri tugasku, kapal pikiranku
Tampak bagaikan bayangan nujum
Yang berlayar antara kedua unsur keabadian
Yaitu langit dan lautan
Kumasuki pelabuhan pulau kelahiranku
Penduduknya berdesak-desakan menyambutku
Sambil bernyanyi dan bersukaria
Dan kerumunan itu mengajakku memasuki kota.
Mereka pun memetik dawai-dawai alat musiknya
Serta menabuh gendangnya.
Demikian sambutan yang kuterima, sebab kapalku
Terhias indah, dan tak seorang pun masuk
Hendak melihat bagian dalam kapal pikiranku.
Tiada pula menanyakan apa buah tangan
Yang kubawa dari seberang lautan.
Tiada pula mereka dapat mengamati
Bahwa kapalku telah kubawa dalam keadaan hampa
Sebab kegemilangannya telah membuat mereka alpa.
Kemudian kukatakan kepada diri:
“Telah kubawa sesat orang-orang ini,
Dan dengan tujuh piala zat pewarna
Telak kukelabui pandangan mereka.”
Sesudah itu kunaiki kapal layar pikiranku
Untuk berlayar lagi, dan kusinggahi Kepulauan Timur
Kukumpulkan di sana, setanggi, dupa dan cendana
Lalu kumasukkan dalam perahuku. . .
Kujelajahi Kepulauan Barat, dan membawa serta
Gading dan batu mirah, zamrud dan intan, permata langka. . .
Aku kunjungi Kepulauan Selatan, dan mengangkut barang.
Busana perang serba gemilang, tombak pedang gemerlapan,
Senjata ampuh aneka ragam. . .
Dan kapal pikiran pun kupenuhi dengan
Benda-benda paling berharga yang serba pilihan
Kembali aku ke pelabuhan tampat kelahiran
Sambil bergumam: “Orang-orang akan menyanjungku lagi
Tetapi kini dengan tulus hati, dan kembali
Mereka akan mengundangku memasuki kotanya,
Tetapi kini dengan maksud mulia.”
Ketika aku sampai di pelabuhan, tiada seorang
Yang menyongsongku. . . Aku menapaki jalan-jalan
Masa laluku yang megah, namun tak seorang
Menengok kepadaku. . . “Ku berdiri di tengah pasar,
Dan mereka malah mengolok-olok daku,
Bersikap tak acuh pada diriku.
Aku kembali ke pelabuhan berhati kosong, patah semangat
Penuh kekecewaan dan kebingungan.
Dan ketika kupandang perahuku, terlihat olehku
Sesuatu yang belum pernah kulihat selama perjalanan
Aku pun berteriak, “Ombak lautan telah menghapuskan
Segala warna perahu dan gambar-gambarnya!
Membuatnya kini kelihatan bagai kerangka.”
Angin dan semburan, bersama terik sinar surya
‘Lah memudarkan cerlang warna, dan kapalku kini hanya
Tinggal laksana seonggok jubah usang kelabu,
Dari tengah timbunan harta bendaku,
Perubahan ini terluput dari pengamatan,
Sebab dari dalam mataku telah dibutakan.
Telah kukumpulkan harta kekayaan paling mahal
Di dunia, dan menyimpannya dalam wadah kapal
Samudera, dibawa mengambang di atas airnya.
Dan aku kembali mengusirku, tak dapat melihatku;
Penglihatan mereka telah tergoda
Oleh pikatan gemerlapnya harta hampa.
Pada saat itu kutinggalkan kapal gagasanku
Untuk menuju Kota Kematian, dan aku duduk termangu
Di tengah tanah pekuburan bisu,
Merenungkan rahasia yang dikandungnya.
Diamlah, hatiku, sabar, sampai Fajar mekar;
Diam, sebab badai yang mengamuk menenggelamkan bisikan hati,
Dan gua-gua di lembah ngarai tak kuasa memantulkan
Getaran tali kecapi yang kaubunyikan.
Diamlah, hatiku, tunggu sampai Pagi baru,
Sebab dia yang sabar menunggu terbit Fajar,
Bakal disambut ombak Pagi dengan rindu.
Berjalanlah bersama Fajar pagi
Sebab malam telah lewat, dan ketakutan akan kelam
Telah hilang, bersama mimpi-mimpinya yang hitam
Pikiran-pikiran yang mengerikan,
Dan perjalanan tanpa tujuan.
Bangkitlah, hatiku, dan lantangkan suaramu dengan lagu
Sebab manusia yang tiada menyertakan Fajar dalam nyanyiannya
Adalah seorang putra Kegelapan
Selamanya.
Kahlil Gibran