Archive for the 'Bloody World' Category

19
Sep
08

Travelling Man

Seharusnya di akhir bulan September ini saya sudah berhenti magang jadi in-house legal salah satu bioskop “terbesar” di Indonesia. Tapi apa daya, bos saya baru membolehkan saya berhenti kalau saya berhasil mencari pengganti saya disitu. Susahnyaaaa setengah mati.

Kalau saya tawarin ke fresh grad fakultas hukum, mereka prefer untuk ngelamar ke lawfirm. Kalo saya tawarin ke anak-anak yang sedang nyelesein skripsi, mereka ga mau karena ga dibolehin sama orang tua mereka, dan prefer nyelesain skripsi. Kalo saya tawarin ke anak-anak angkatan bawah, pasti alesannya masih banyak kuliah. Hasilnya ya, saya terpaksa memperpanjang permagangan saya di tempat ini sampai pada waktu yang tidak ditentukan, yaitu sampai saya dapet pengganti saya.

Aneh sih, ada kerjaan kok mengeluh. Tapi kalau saya ga keluar dari kerjaan ini, dijamin skripsi saya ga bakalan selesai semester ini. Karena kesalnya ga bisa keluar dari tempat ini, kayanya setelah jadi sarjana hukum nanti (amin ya allah, amin) saya ga mau langsung kerja deh. Mungkin saya mau travelling dulu selama 7 bulan sambil menunggu penerimaan pegawai deplu bulan agustus tahun depan. Sementara itu, kayanya enak deh keliling Indonesia, atau kalau mungkin, keliling dunia dulu selama 7 bulan itu.

Rencananya sih, yang pasti, mau balik ke US. Udah lama ga ketemu sama temen-temen sma disana. Ditambah lagi, Nuy lagi ambil S2 di DC. Jadi kalo mau jalan-jalan ke DC area, paling ga ada penginapan gratis.

Yang kedua ke Cina. Weirdest thing, Endra tiba-tiba aja bilang kalo dia akan pergi ke Shanghai untuk interview dengan 3 Architech Firm di Cina. Kalo dia keterima, ada penginapan gratis di Cina! Abis itu enaknya, kalau memungkinkan, ke Russia sekalian. Kalo uangnya masih ada..

Setelah itu, keliling Indonesia deh. Ada banyak tempat yang penting untuk dikunjungi sepertinya. Pulau Komodo, Karimunjawa, Buyat di sulawesi, Tana Toraja, Gunung Rinjani, sama pulau Weh diatas Aceh.

Wah, seru banget deh rencananya. Dijamin kalo rencana ini bisa terlaksana, pasti saya seneng banget. Dan pasti papa bangkrut banget.. huehehehe.

I think I might go with this plan. Langsung kerja setelah lulus terlihat sangat membosankan. Lagian udah susah setengah mati keluar dari kerjaan, ya sekalian aja dinikmati…

Hmm, sombong banget  ya, kaya nyari kerja gampang aja..

02
Sep
08

Kampus Terkutuk !!!

Seminggu ini gw lagi semangat-semangatnya bikin skripsi. Sehabis sahur, ga tidur lagi langsung ngerjain skripsi.

Buat nyari bahan gw buka westlaw lewat website FHUI. Ternyata ga bisa dibuka aja. Udah seminggu tuh website terkutuk itu ga bisa dibuka. Gw berkesimpulan mungkin Kampus udah ga langganan lagi. Sangat tidak mengakomodasi kepentingan mahasiswa.

Akhirnya terpaksa nyari bahan ke perpustakaan kampus.

Begitu sampai di kampus, perpustakaan tutup karena sedang direnovasi. Akibatnya, kita ga bisa minjem atau hanya sekedar baca buku dan skripsi yang ada di perpus. GILA!!!

Gimana gw mau cepet selesai bikin skripsi!!! Bahannya aja ga disediain. Terus kenapa ga merenovasi gedung sejak liburan kemarin. Wong libur sampe 3 bulan kok.

Ah, kacau ni kampus…

20
Aug
08

In Memory of LeRoi Moore (1961-2008)

Today I am in grieve for the death of LeRoi Moore. I am very sad that such a talented musician is gone so fast. I wonder who will replace him. Hmm.. What a very sad day..

LeRoi Moore (September 7, 1961 – August 19, 2008) was the saxophone player for the Dave Matthews Band, and a founding member of the band. Moore often arranged the music for the songs written by frontman Dave Matthews. He had co-writing credits on many of the band’s songs, most notably “Too Much” and “Stay”.

Moore was born on September 7, 1961 in Dunn, North Carolina to Lee Vester and Pennie Louise (née Smith) Moore. Raised in Virginia, he attended college at James Madison University in Harrisonburg, Virginia studying tenor saxophone and later became an accomplished jazz musician in Charlottesville, Virginia. He was tapped by Dave Matthews in 1991 to record some songs he had written and wished to flesh out with larger instrumentation.

He played bass, baritone, tenor, alto, and soprano saxophones, as well as the flute,bass clarinet and wooden penny whistle.

“For a moment this good time would never end
You and me
Just wasting time
I was kissing you
You were kissing me, love
From good day into a moonlight
Now a night so fine
Makes us wanna stay… for awhile”

-”Stay” by Dave Matthews Band

19
May
08

Polisi Wanita

Saya bingung, kenapa sih harus ada Polisi Wanita (PolWan)? Kenapa ga semua Polisi, baik itu pria atau perempuan, disebutnya “Polisi” saja.

Kita kan ga kenal dengan sebutan DokWan (Dokter Wanita), Supir Wanita (Supwan), Dosen wanita (Doswan), atau bahkan Tewan (Tentara Wanita). Seluruh angkatan bersenjata berjenis kelamin wanita tetap dipanggil ABRI, tanpa embel-embel wanita dibelakangnya. Mungkin mereka ditempatkan di dalam kesatuan yang berbeda khusus wanita. Tapi itu tidak mendiskriminasikan mereka dengan sebutan yang berbeda.

Kenapa sebuah panggilan menjadi masalah? Coba aja  teriak “Negro!!!” keras-keras di tengah central park, new york. Atau teriak “Cina!!!” di Citraland, Jakarta. Then you’d know why names are an issue.

But, I don’t know, mungkin saya salah. Saya cuma mau berbagi pendapat dengan para pembaca pria dan pembaca wanita blog ini…

26
Jan
08

I live in a third world country

Kata orang, kualitas suatu bangsa itu, secara umum, bisa dilihat di jalan raya. Kalo jalan-jalannya semrawut, bangsa itu juga secara umum semrawut. Berdasarkan pengalaman dan pengelihatan saya selama berada di jalan raya Indonesia pada umumnya dan Jakarta pada khususnya, saya memberanikan diri mengambil kesimpulan bahwa Indonesia memang pantas dicap sebagai negara dunia ketiga atau negara berkembang (baca: terbelakang -red). Karena di saat negara maju sudah bisa membuat mobil yang bisa memarkir secara otomatis, kita masih belum bisa memanfaatkan teknologi sederhana yang ada di kendaraan kita. Ini beberapa contoh yang bisa saya sebutkan:

1. Lampu

Mungkin kebanyakan pengendara motor tidak tahu kalau ada teknologi yang namanya lampu di bagian depan motor mereka. Makanya banyak yang tidak menyalakan lampu motor mereka ketika malam tiba.

Mas dan Mbak Pengendara Motor, lampu itu ditemukan oleh Thomas Alva Edison. Fungsinya untuk membantu kita untuk melihat di malam yang GELAP. Selain itu juga membantu pengendara lain MELIHAT ANDA. Saya bukan Superman yang bisa melihat dalam kegelapan, mas, mbak. Jadi tolong digunakan teknologi ini, untuk keselamatan kita bersama.

2. Lampu Sen

Teknologi ini sedikit lebih maju daripada lampu biasa. Ini merupakan teknologi telepati di abat 21. Cara kerjanya cukup mudah, lampu sen dapat mengirimkan gelombang dari otak kita ke otak orang lain di sekitar kita sehingga orang di sekitar kita bisa mengetahui apakah kita ingin belok ke kiri atau ke kanan, HANYA DENGAN MENEKAN SEBUAH TOMBOL di kendaraan kita. Mudah kan?! Dicoba deh..

3. Lampu merah

Nah, kalau yang ini adalah lampu yang digunakan untuk mengatur lalu lintas, mas, mbak. Lampu merah artinya berhenti, lampu kuning artinya hati-hati, lampu hijau artinya jalan terus. Untuk info lebih lengkap, coba deh anda tanya adik-adik kita yang ada di Taman Kanak-Kanak. Pasti mereka bisa menjelaskan tentang lampu merah secara lebih lengkap.

4. Rem

Mas, mbak pengendara motor, panel di kaki dan tangan kiri anda bukan cuma aksesoris semata lho. Panel itu kita namakan rem, fungsinya untuk membuat kendaraan kita berhenti. Jadi di motor itu bukan cuma ada gas saja, tapi ada rem juga. Kalo fitur ini tidak ada di kendaraan anda, anda mungkin harus komplain ke dealer motor anda.

5. Helm

Tidak seperti keempat teknologi diatas yang mungkin terlalu rumit untuk anda mengerti. Helm ini adalah teknologi yang sangat sederhana. Cukup dipakai di kepala anda saja, dan keuntungannya hanya anda saja yang menikmati.

P.S.: Kalau anda membawa anak anda di motor, ada baiknya anda memakaikan anak anda helm. Tapi ini cuma saran saja lho, mas, mbak. Saya sendiri belum punya anak. Tapi kalau saya punya anak dan saya akan mengendarai motor, pasti saya akan lebih mendahulukan kepentingan anak saya lebih dulu daripada keselamatan saya sendiri. Sudah bukan waktunya untuk menjadi egois, mas, mbak..

Nah, gimana? Masih ingin Indonesia dicap sebagai NEGARA DUNIA KETIGA? Kalau ga, maka sudah waktunya kita memanfaatkan dan mengembangkan teknologi yang kita miliki. Seperti semboyan teman baik saya:

Kalau bukan kita, siapa lagi

Kalau bukan sekarang, kapan lagi